Kamis, 11 Januari 2018

Goes to Tidung Island



Hai sobat… #catatanfyin kembali lagi dengan petualangan barunya ke luar jawa, wow… kemana?? Pulau Tidung kepulauan seribu. Yups walaupun kepulauan ini termasuk wilayah provinsi DKI Jakarta, namun suasananya kontras sekali dengan hingar bingar khas Ibukota Negara. Pulau yang indah dengan pantai yang menawan serta penduduk yang ramah, sunyi sepi khas daerah kepulauan.
Untuk newbie kayak saya yang kepengen wisata kesana, langkah awal cari koneksi, info tanya sana-sini about trip to kepulauan seribu. Yups dapat info travel dari seorang kawan langsung dihubungkan dengan travelnya. Dan harus ada kawan antara 7-10, sekali lagi saya harus cari kawan yang sevisi dan misi dalam hal jalan- jalan hahaha… kalo untuk japri satu- satu or ngomong tatap muka agak susah juga karena posisi saya sedang UAS ( ya Allah ampuni aku yang sudah memikirkan jalan- jalan padahal ujian belom kelar :D). Akhirnya saya memanfaatkan medsos WA, kenapa pilih WA?? Karena jaringan pertemanan di WA terbatas orang yang kita kenal ja. Share announcement at group’s yang ada dan bom status hahaha…

Jeng jeng jeng… dapatlah 10 orang( sebenarnya banyak yang mau ikut, tapi keburu pada beli tiket mudik sih) booking dan kirim uang DP dapat rundown. Buat grup wa… diskusi… dan... tibalah H-1 keberangkatan 7 Januari 2018, tiba- tiba dapat kabar dari travel kalo di muara Angke sedang ada aksi mogok dari awak kapal tradisional, jadi semua keberangkatan dari Angke off, dan kita disaranin untuk berangkat weekendnya atau tetap berangkat sesuai rencana tapi via Marina beach by speedboat dengan biaya tambahan @orang 250k. oh no!! semua dah direncanakan bahkan ada yang sampai cuti kerja. Akhirnya dari pihak travel menyarankan via pelabuhan Rawasaban Tangerang… amboiii… baru dengar awak, bahkan kawan yang suka traveling ja baru dengar. Searching sana- sini( karena kalo Tanya sana- sini gak da yang tau pula). Dapat beberapa alternative perjalanan dan kita memutuskan by train sambung Gr*b.

Keesokan harinya, kita sepakat untuk sampai di stasiun pasar minggu jam 6 tepat, Alhamdulillah semua dah berkumpul dan naik kereta jurusan Duri disambung kereta destinasi Tangerang. ( sebenarnya kita yang pake THB- tiket harian berjaminan- dah pesan tiket jurusan Poris station, tapi setelah diliat di Gr*b ternyata menuju pelabuhan lebih murah kalo dari Tangerang station, hamdanlillah hari itu mulai diberlakukan penyelarasan tarif, jadi saat kita berhenti di stasiun yang letaknya lebih jauh dari tiket tujuan kita, kita hanya dikenakan tambahan biaya tanpa denda).
Sampai di Rawasaban 15 menit lebih awal dari waktu yang teah disepakati dengan pihak travel, sempet berteduh sebentar sebelum kita naik kapal( jangan dibayangin pelabuhan yang indah kayak di tipi- tipi ya,..hehe karena Rawasaban adalah pelabuhan untuk angkut barang sebenarnya). Masuk kapal dan beberapa orang masih angkut barang yang akan dibawa ke Tidung, heran juga liat pisang, kelapa, sayur-mayur ikut diangkut juga, emang disana gak da yang nanam apa???

Kapal baru meninggalkan pelabuhan pukul 11:30, jadi selama 1,5 jam kita sauna dulu didalam kapal, hehehe. Tepat pukul 13:00 kita sampai in Tidung, perlu diketahui perjalanan dari Rawasaban relative lebih singkat dibandingkan kalo lewat Angke yang harus memakan waktu tempuh kurleb 3 jam.
Kita keluar dari pelabuhan dan melewati jalan setapak terbuat dari paving( dalam hati: dimana ya..jalan beraspalnya) menuju tempat penyewaan sepeda, sambil sepedaan kita menuju homestay. Mantaaabbb homestaynya nyaman bgt, satu rumah ber ac buat kita ber-10 pas depan pantai( serasa di film full house, hehe), sholat, makan, eh.., airnya asin.

Jam 3 guide dan ngajak kita snorkeling, yes yes yes… menyelam, kembali bersepeda( homestay kita terletak diujung barat pulau sedang tempat snorkeling berada di ujung timur, jadi anggap saja kita sudah menjelajah seluruh pulau, heheh, dari sini baru kutemukan jawabannya, karena luas pulau tidung Cuma 109 ha *Wikipedia dan memanjang, jadi kalo dipantai, sebrang pantai pun bisa kita lihat dengan jelas, dan hampir semua dataran pulau adalah pasir putih, jadi wajar saja kalo tidak ada lahan pertanian; makanya harus ambil kelapa, sayur- mayor, pisang dari jawa, dan airnya asin serta gak ada jalan aspal serta gak ada mobil, Cuma ada becak motor dan motor). Tempat untuk snorkeling dekat dengan jembatan cinta – icon wisata pulau Tidung-, selama perjalanan kita melewati beberapa fasilitas umum, SMK, MA, masjid, kantor polisi, puskesmas 24 jam , kantor kelurahan, dan balai penelitian biota laut. 
Semangat sekali kita mau snorkeling, padahal waktu mau turun ke laut ja takut- takut, hahah… ditambah gak bisa berenang serta dah terbiasa hidup didarat dan bernafas dengan hidung, jadi saat disuruh pake kacamata renang dan bernafas dengan mulut pun susah hahah. Aku bisa menyelam ke bawah pun ambil tahan nafas( efek waktu kecil suka tantangan ma adek lama- lamaan masukin kepala kedalam air, heheh ada manfaatnya juga). Masya Allah sungguh indah ciptaanMu.
Jadi saran saya sebelum memutuskan untuk wisata bahari mending latihan renang dulu deh, kurang seru tau kalo gak bisa renang, gak nyampe sejam kayaknya kita dilaut, itu pun telinga hidung, mulut dah kenyang minum air laut ditambah kaki lecet- lecet kena karang :D. foto- foto khas anak jaman now lah, jalan- jalan di jembatan cinta dalam keadaan baju basah, hahaha. Belom nyampe pulau tidung kecil kita dah balik lagi, capek jalan hehe karena sepedanya diparkir diluar.
Pulang ..dan diperjalanan pulang liat matahari hampir terbenam, mau nungguin dan capek pengen cepet- cepet mandi. Mandi makan sholat bakar- bakar ikan dipinggir pantai sambil menikmati langit malam dan ngitungi bintang dilangit tidur…


Paginya kita sholat subuh, beres- beres( what??? Ya.. kita harus beberes sekarang, karena jam 7 kapal berangkat dari pelabuhan menuju rawasaban, jadi kapalnya sehari Cuma sekali berangkat ke Tangerangnya) sepedaan deh, niatnya kita mau ke pulau Tidung kecil, tapi qodarullah ditengah jalan hujan lebat dan bertedeuh sejenak. Jam 6 kurang hujan baru reda, lanjut dah perjalanan walaupun ditemani mendungnya langit dan gerimis kecil tak menghalangi kita untuk take photo, oopss. Mau naikin sepeda ngelewati tangga dijembatan berat juga, ditambah waktu yang terus mengejar kita. Akhirnya pupus keinginan untuk menuju small tidung island, padahal disana ada penangkaran penyu. Aku pun menuju tanjungan timur merenung sejenak trus pulang ke homestay, ditengah jalan..lho kok guide dan rombonganku dah pada bersepeda siap cabut dari pulau, OMG barang- barangku… ternyata dah dibawain semua, hehe,, thank you so much my friends. Hpku gi aku cas, jadi gak kubawa, setelah kubuka dan banyak miscal dan sms dari guide nyariin aku, takut aku ketinggalan, hehehe.. I’m so sorry abang guide thanks dah membersamai kita selama 24 hours in Tidung Island, lupa gak Tanya namanya… sepedanya ja gak sempet kita balikin, sama guidenya suruh naruh ja diparkiran pelabuhan, ya Allah.. kasihan abangnya ngembaliin sepeda sebanyak itu sendiri. Naik kapal… dan gak berselang lama kapalnya meninggalkan pelabuhan,,, good bye… see u again in our next trip. Doain banyak rezeki dan waktu buat travelling . Aaamiiin.



Rabu, 20 September 2017

From Bangkok to KL to balik kampuang. habis



Ditengah- tengah makan tiba- tiba sunyi- senyap padahal sebelumnya bising banget, namanya juga pasar, dan terdengar lagu kebangsaan mereka, penjual dan orang lokal pada berdiri, aku dan turis- turis lain diam terpaku, setelah lagu kebangsaan selesai suasana pasar seperti sedia kala :D. Setelah itu temenku jelasin bahwa di Thailand setiap pukul 8 pagi dan 6 sore dibunyikan lagu kebangsaan ( jangan bayangin lagu kebangsaannya panjang kayak Indonesia Raya y...) dan bagi penduduk lokal wajib diam dan berdiri, kalo turis mah cukup diam ja, dan jangan sekali- kali bersuara, bisa kena semprit petugas, malu euy. Wah... loyalitas banget y.. mereka ma kerajaannya. Kerajaan Thailand juga mewajibkan setiap tempat umum ada tempat  sholat bagi muslim, aku pas masuk masjid Darul Aman di Petcbury wah... mukenanya wangi, kamar mandi dan tempat wudhu bersih. Trus kalo hangout di mall ada juga mushola walaupun kecil tapi kondusif dan disediakan air dan teh bagi yang mau rehat, cucok banget kan.

Malamnya, ngepasi tu malam minggu, aku diajak teman jalan- jalan di jln. Petcburi soi( gang ) 7, ni kawasan muslim, jadi bagi sobat muslim bisa hangout kesini, ni dipusat kota kok. Wuih...ramenya dengan cewek berjilbab bahkan ada yang bercadar, disini kami makan otak- otak( bentuknya bulat lupa nama thailandnya) dan spageti Thailand.
Esoknya jalan- jalan nongkrong dipinggir jalan sambil nyari sarapan di seven eleven( berhubung ini negara asal sevel, jadi dimana- mana ada). Buah potong yang dijajakan pedagang pake grobag mantep euy.. potongannya gede- gede seger pula ditengah teriknya kota Bangkok. Dan tak lupa ke stasiun buat beli tiket balik ke Padang Besar( weh..kilat y..sehari doang). Petugasnya gak bisa nulis latin, akhirnya suruh ngetik sendiri, hehe.

Siangnya sekalian check out hotel naik LRT trus disambung ojek( disana ada ojek juga, seragamnya rompi kayak yang dipakai porlantas warna orange) biayanya 15 bath menuju masjid jawa. Sampai di masjid jawa jam 12 siang, ternyata disana ada utusan dari Balai Bahasa Jawa Timur( lembaga resmi dari kemendikbud yang fokus untuk mengajakan bahasa indonesia ke berbagai negara) yang sedang mengadakan kursus bahasa indonesia bagi orang thailand pas acaranya selesai habis itu aku tiba- tiba ditanya ma bapak- bapak yang dah sepuh * ketua program ini* kuliah dimana dll, beliau tanya pake bahasa thai campur arab dan aku jawabnya pake bahasa indonesia, dia paham, dan ternyata beliau keturunan ke-4 orang jawa yang pada masa dulu mobilisasi ke Thailand. Makanya disebut masjid Jawa, karena itu pemukiman keturunan jawa tapi sudah tidak bisa bahasa indonesia, walaupun bentuk bangunan dan beberapa adat jawa masih mereka lakukan *bangga jadi orang jawa :P *. Cara mereka ngaji pun seperti orang jawa( mbah- mbah kita dulu)  hehe..bisa dibayangkan kan?

Tiba- tiba aku suruh ngomong pake mix, terserah ngomong apa, lah...bingung to..niatnya kan jalan- jalan bukan ngisi seminar, ya dah aku perkenalan ja* mungkin kayak native speakernya kali :D *, setelah itu difoto- foto, weh... turis Indonesia ni. Hahaha. Setelah kegiatan mereka dibagikan tempe ya.. tempe makanan keseharianku – the taste of Indonesia-.
Setelah itu jalan kaki menuju stasiun LRT menuju gedung seni ( menurutku bentuknya lebih mirip mall masuknya juga gratis, Cumadicek pake logam detector ja) dan shoping di MBK mall( kayak blok M, tapi lebih bersih, hehe).katanya gak ke Bangkok kalo belom kesini, weh. Disini beli oleh- oleh dan cinderamata Bangkok, katanya kalo di Thailand oleh- olehnya lebih bervariasi dan murah, bisa ditawar juga, transaksinya pun menggunakan bahasa inggris ala kadarnya yang penting sama – sama mafhum :D, setiap bilang ‘kha pun kha’ mereka dah seneng banget.

Keluar dari MBK mall disambut dengan hujan deres banget nget nget plus angin kencang, padahal niatnya mau naik sampan tapi berhubung kereta jam 3 dan waktunya mepet akhirnya naik tuk-tuk( kendaraan khas thailand, bentuknya kayak bemo, kalo naik ni harus pinter- pinter nawar y) menuju stasiun Hua Lamphau. Good bye Bangkok.. see you next time. Dikereta pengen jajan cemilan di pedagang asongan( kata temen orang Thai kalo jual makanan haram, kita gak tau dan pengen beli, mereka gak ngebolehin, ok kita coba) 2 pedagang aku tanya dan mereka bilang no no this is pork, mantap dah...mereka paham betul kalo muslim gak boleh konsumsi pork( bahkan mereka tahu istilah ‘babi’) dan dog.
Tiba di Padang Besar pukul 8 pagi, Padang besar Malaysia termasuk dalam negeri Perlis, setelah ngurus keimigrasian di Thailand dan Malaysia, kita langsung menuju loket KMT, ternyata tiket ETS Padang Besar – KL adanya pukul 04:55 sore, weh...mpe berlumut tu kalo nunggu di stasiun, akhirnya sarapan dulu di kantin stasiun, halal menu disini dan relatif murah, aku makan nasi dan sotong( cumi- cumi) plus air minum cuma 5 RM, sarapan sambil searching tempat wisata sekitar stasiun dan tak lupa nitipin barang dulu di kantin( kantinnya menerima penitipan barang, bayarnya 5 RM, lumayan lah daripada harus gotong barang kemana- mana).
Akhirnya kita jalan kaki menuju Arked Niaga, disini banyak kuliner Thailand, barang- barang yang dijual pun kebanyakan malah hampir semua produk dan cinderamata tulisannya Thailand, bahkan aku liat batik solo yang dijual heheh, disini juga bebas bea cukai, jadi relatif murah. Dan hampir semua penjualnya orang melayu pake jilbab. Banyak pula tentara Thailand, iyalah namanya juga perbatasan. Disini juga banyak kita temui mobil atau motor plat Thailand.

Setelah solat duhur jama’ ashar di masjid deket arked niaga, di masjidnya banyak musafir juga kayaknya, coz sholatnya pada dijama’ , disini juga banyak bas pesiaran- bis pariwisata-.  Kemudian jalan- jalan lagi dan kembali ke stasiun, diatas JPO kita bisa melihat truk tronton ngangkut peti kemas dan kontainer barang ekspor impor. Pukul 4: 30 pintu ETS baru dibuka dan para penumpang baru boleh masuk. Ilalliqo’ Padang Besar  negri Perlis...
Sampai di KL Sentral pukul 10:00 malam, mau tidur di suraunya tapi takutnya teller, besok hari terakhir di KL rencana pusing- pusing :D. akhirnya searching hotel murah di KL, pertama dapet yang sekitar KL sentral, pas dah sampai sana ternyata resepsionisnya bule dan speak English only, trus tempatnya kurang kondusif, banyak cowok yang lagi main billiard dan full music, akhirnya searching lagi dan dapat di daerah bukit bintang dengan harga 70 RM / malam, pertamanya Cuma booking semalam berharap besok dapet yang lebih murah, heheh..
Keesokan harinya searching lagi dan telpon beberapa hotel ternyata harganya diatas 70 RM, diputuskan untuk booking semalam lagi, malam terakhir di KL. Setelah itu keluar cari sarapan muter- muter berharapnya dapat restoran pribumi, tapi semua yang dilihat restoran luar, mau gak mau masuk ke restoran India dan pesan … mie goreng hahaha… 

First destination adalah “batu caves”, untuk menuju kesana naik KMT tujuan akhir “batu caves” dari KL sentral tiketnya 3RM. Mudah untuk menemukan objek wisata ini, karena posisinya yang tepat disebelah halte KMT dan banyak turis yang menuju kesana, jadi gak takut nyasar :P.
“Batu caves” adalah kuil orang hindu terbesar yang terdapat patung dewa mereka tertinggi berlapis emas yang berada diluar India, saat kesana kita serasa berada di India, karena semua pedagang kaki lima, petugas tiket, semua – semuanya adalah orang India dengan pakaian adat mereka. Dipelatarannya banyak kita jumpai monyet- kayak di grojogan sewu ja- dan burung dara, da nada beberapa tempat yang tertulis “ no shoes” artinya kalo kita mau kesana harus lepas alas kaki, gak maul ah aku kesana. Aku Cuma masuk ke gua Ramayana, gua ini berada didalam bukit dan didalamnya terdapat banyak pahatan kehidupan dewa hindu, ada tangga naik pula yang cukup tinggi, diatasnya ruangan kosong yang banyak kelelawarnya, masuk ke gua ini kita harus merogoh kocek 5 RM, disamping gua ada kayak taman, entah apa isinya, karena masuknya berbayar, akhirnya gak masuk hahaha… sebelahnya lagi ada tangga naik keatas bukit, naik dan diatas gak tau tempat apa, masih kosong dan banyak pekerja yang gi renovasi atau gimana entah. Dipertengahan tangga ada cabang tangga naik, disana ada “ dark cave” conservation site and natural history gallery, tapi aku gak masuk kesana karena biayanya lumayan dan bukanya hari tertentu ja.

Destinasi selanjutnya adalah masjid jamek, untuk menuju kesana harus naik KMT lagi menuju KL sentral, dan dari sana naik LRT tujuan masjid jamek. Setiba di stesen masjid jamek, ni stesennya bagus sangat, lorongnya panjang dan dinding lorong dihias dengan karikatur sastra melayu. Setelah solat duhur jama’ ashar di masjid ini* gak banyak foto di masjid ini karena arena untuk foto dibatasi. Rencana mau ke masjid india yang jaraknya tak jauh dari masjid jamek, tapi saat lihat petunjuk arah, tertulis “dataran merdeka”, akhirnya mengikuti arah dataran merdeka. Dataran merdeka adalah semacam kota tua dengan bangunan kuno khas inggris, ada sejenis jam bigbeng pula kayak di Inggis. Kayaknya sedang ada renovasi juga, karena banyak pekerja yang berseliweran. Ada pula museum tekstil, tapi saat itu sudah pukul 5 jadi dah tutup. Setelah muter- muter dengan pemandangan yang eksotis, karena dari sini bisa lihat kubah masjid jamek yang tampak megah dan pemandangan kota KL.
Ditengah dataran merdeka ada tiang bendera besar seperti monumen lah yang mengibarkan bendera setengah tiang, what??? Ada apa??? Oh ya tadi pagi saat lihat berita dikabarkan bahwa Raja Kedah wafat semalam, jadi selama 7 hari berturut- turut seluruh Malaysia berkabung. Disekitar tiang bendera ada air mancur dan foto- foto perdana Malaysia beserta profilnya dari pertama sampai yang keenam.
Tak jauh dari dataran merdeka ada ” jam detik”, jadi ada bangunan yang dikelilingi oleh air terjun, untuk masuk kebangunan itu biar gak basah, menunggu didepan air selama 10 detik dan airnya akan berhenti. Saat aku kesana masih banyak pekerja, jadi belom beroprasional.

Setelah itu mencari halte bas untuk menuju destinasi selanjutnya yaitu KLCC untuk menyaksikan air mancur menari, tapi sebelum ke KLCC muter- muter KL dengan Go- KL semua rute di coba, jadi anggap saja dah keliling seluruh KL lah, heheh.. dan cari makan dapatnya menu “ rebola daging”, bakso sih menurutku, tapi disajikan dengan nasi dan telor asin, trus daging baksonya kayaknya dicincang kasar.
Nyampai KLCC sekitar pukul 10 malam, dan ternyata air mancur menari adanya sebelum jam 9, yah… gagal donk liat aslinya, semoga suatu saat punya kesempatan untuk menyaksikannya. Tapi pemandangan petronas saat malam hari yang memukau serta banyaknya orang local maupun wisatawan mancanegara masih pada nongkrong di depan petronas lumayan mengobati kekecewaan karena gak bisa melihat air mancur menari. Setelah foto- foto dan nongkrong sesaat, akhirnya jam 10:45 pergi ke halte bas untuk mengejar bas terakhir* karena menurut info bas terakhir jam 11. Sampai di bukit bintang sekitar jam 11: 30, dan suasana lebih rame daripada siang hari. Setelah melewati lautan manusia akhirnya sampai di pulau kapuk dan… zzzz…. Untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya harus balik kampong.
Baru check out dari hotel pukul 10, tanpa mikir sarapan langsung menuju halte LRT menuju KL sentral, dari Kl sentral dilanjut dengan naik KLIA Ekspress kereta api cepat menuju bandara yang hanya memakan waktu 28 menit dengan jarak sekitar 50 KM dan harga tiketnya 55 RM. Sampai di KLIA 2 pukul 11:30 baru nyari sarapan lalu urus imigrasi dan…. Good bye Malaysia.. see u letter. Next trip Jakarta- Batam – Singapura- KL. Aaaamiiii… nabung dulu y guys.. terima kasih dah mau membaca storyku, semoga sedikit memberi gambaran dan inspirasi :D.

Senin, 18 September 2017

gak harus menunggu menjadi horang kayah kok... part-2




Setelah antri imigrasi di Malaysia, antri lagi di kantor imigrasi Thailand, disitu kita dikasih blanko identitas dan alamat yang kita tuju, untung aku punya kenalan di Bangkok dan emang dia sanggup guide in saat di Bangkok, sempat ragu juga sih mau ke Thailand atau gak, apalagi itu bukan negara muslim dan sedang ada gejolak antara budha dan muslim di negara tetangganya Myanmar dan aku berhijab ditambah kata- kata dari kawan-kawan buat hati – hati disana, jangan sembarangan makan.
Tapi di imigrasi Thailand banyak orang berhijab bahkan bercadar, jadi tenang deh.. :D, eehh ternyata mereka yang ramai- ramai tu pada mau ke Hatnyai, thailand rasa Malaysia sekitar 1 jam lah dari perbatasan. Dan yang kearah Bangkok kebanyakan bule- bule, what...was- was lagi.

Ditunggu mpe jam 5, kereta pun tak kunjung muncul, petugas imigrasi dah pada pulang, sepi, padahal stasiun sebrang( Malaysia) masih terdengar ramai. Krik krik...hanya ada aku dan beberapa bule serta orang yang menawarkan jasa penukaran uang. Bulenya baik kok mau minjamin ces portable, oh ya. Kalo di Malay stop kontaknya lubang 3, sedangkan Thailand lubang 2 kayak di Indonesia. Udaranya pun panas banget, serasanya aku kayak yang di film DOTS pas pemain utama pergi ke negara Urk, hahaha...khayalannya lo mbak.

Dan pukul 6 lewat sedikit kereta baru muncul, jauh beda dengan kereta yang ada di Malaysia dan sama lah kayak kereta Jakarta- Solo yang selalu aku pakai buat mudik :D, pemandangan menuju Bangkok juga gak jauh beda ma Indonesia, serasa mudik hahah. Jangan bayangin jam 6 dah gelap y.. disana jam 6 masih terang benderang, maghribnya jam 6 lewat, oh ya waktu di Thailand 1 jam lebih lambat dari di Malaysia, berarti kayak di Indonesia, dan gak tau kenapa saat lewat perbatasan jam di hp langsung berubah :D.

Keretanya bersih dan nyaman, tempat duduknya kalo malam bisa disulap jadi tempat tidur atas- bawah, dapat bantal, kasur, sprei, selimut, nyamannya... oh ya.. dikereta masih banyak pedagang asongan, setiap nglewati pasti ada yang bilang “halal- halal, no pork no dog”, tapi tetep aja gak berani bei, was- was. Mau bilang tidak pun bingung gimana ngomongnya, coz aku gak suka nonton film Thailand beda dengan saat di Malaysia, aku gak kesusahan dengan bahasaya, bahkan banyak yang ngira aku penduduk lokal :D. Akhirnya dengan secepat kilat tanya teman- teman yang suka film Thailand :D. Pake roaming dari sim card Malaysia tu, cz males beli lagi.

Sampai di stasiun  Hua Lamphau stasiun utama di Bangkok kali y.. tapi bagusan stasiun- stasiun yang ada di Indonesia sih, ternyata banyak yang berjilbab :D huft. Hubungi teman katanya suruh naik bis aja, biar pengalaman, what... akhirnya naik bis dengan nomor yang ditunjukkan teman, katanya sih deket, sopirnya muslim kali y.. coz pake peci dan berjenggot :D, kata temen paling bayarnya 12 bath murah tu, dan didompet Cuma ada selembar 1000 bath, akhirnya dikasih tu uang, entah ngomong apa tu kondektur tak paham sama sekali trus Cuma dikasih kembalian 2 coin ja, what,, dari 1000 bath Cuma kembalian 2 coin, akhirnya dikasih kembalian pas :D, dari sini aku mulai kagum dengan orang Thailand :D. Waktu tanya alamat yang dikasih temen pun juga diturunin ditempat yang bener.

Sampai di tempat tujuan jl. Petcburi, ni pusat kota dan banyak orang muslimnya dan tentu banyak restoran halal dekat dengan KBRI, ketemu sama teman dan diajak  makan tom yam hmmmm..sedapnya kuliner khas Thailand banget.setelah itu nyari penginapan karena temenku dah berkeluarga, gak enak kalo numpang disitu, aku milih yang privat room lumayan mahal 4 kali lipat lebih dibanding dengan dormitory yang isinya sekamar banyak orang. Aku milih yang privat biat lebih leluasa istirahat n solatnya, kebanyakan yang nginap disitu turis- turis dengan pakaian mereka.

Sorenya diajak jalan- jalan dengan ibu- ibu orang Indonesia yang ikut suaminya kerja di Thailand, oh ya, orang Indonesia di Thailand sebanyak 3000 an orang, dan gak ada TKI atau TKW disana, kebanyakan orang Indonesia yang disana adalah direktur perusahaan besar atau pelajar, kayak temanku, dia guru agama di Sekolah Indonesia Bangkok. Jadi orang Indonesia dihargai, jauh berbeda perlakuannya dengan negri sebelah terhadap orang Indonesia, mereka pun suka dengan batik.
Kita pergi ke Chatucak weekend market, jadi bukanya setiap weekend aja sabtu- ahad, berhubung aku nyampe Bangkok Sabtu pagi, jadi sorenya langsung cus kesini, naik grab dan drivernya cewek, keliatan jutek cerewet tapi baik, benerin bahasa kita yang salah, padahal Cuma salah logat doing dah beda arti dan dia jelasin panjang lebar. Aku mah yang gak paham bahasa sana sama sekali Cuma senyum- senyum ja ngliatin tingkah ni driver gi ngobrol ma temenku. Temenku kan waktu itu sambil bawa anaknya yang masih umur setahunan, si driver kayaknya litany amazing banget, apalagi pas Tanya jumlah anak dan dijawab 3, wah… dari sini aku tahu bahwa orang Thai malas punya anak, apalagi anak banyak, ribet, rempong ngurusnya, belom lagi sakit waktu nglahirin, ditambah mereka dah ngitung jumlah seluruh biaya pendidikan anak sampai kuliah kelak, padahal mereka kalo liat anak kecil interest banget, huft…kita mah sebagai orang muslim tawakal ja ma Sang Pencipta.

Sampai di chatucak market wuih..ramainya..banyak turis termasuk aku, hehe.. disini banyak oleh- oleh khas Thailand dengan berbagai variasi, pinter- pinter nawar ja, coz harga disini udah termasuk mahal, mungkin karena dah kayak jadi tempat wisata kali y… oh ya didepan pasar ni juga terpampang foto raja dan ratu Thailand dalam ukuran besar dan pemandangan ini lazim disetiap depan toko, hotel, stasiun, dan tempat- tempat lain. Disini juga ada larangan untuk membicarakan keluarga kerajaan, hati- hati ja bisa masuk penjara.

Setelah capek keliling akhirnya kita nyari makanan dan tak lupa kalo di Thailand cari restoran yang ada label halal atau yang penjualnya berjilbab, lumayan banyak ditemui kok. Aku beli tom som sejenis salad, biasanya ada kepiting hitamnya, tapi aku pilih yang original ja, itupun didalamnya ada ebinya, rasanya endes bgt, harganya 60 bath, jangan tanya mahal atau murahnya, ni porsi jumbo, aku ja gak habis :D. Aku juga nyicipin bakso Thailand, wes aromanya kayak kolak menurutku, rasanya enak banget semua rempah- rempah masuk kayaknya. Dan tak lupa minuman andalan “teh Thailand”. bersambung...